Spot wisata yang menawarkan panorama alam dan kesejukan Pegunungan Muria ini berada di kompleks Bukit Naga (Jollong 2). Travelers cukup menempuh perjalanan kurang satu jam dari pusat kota untuk menikmati kesejukan dan keindahan Buba'an Hills.
Akses menuju tempat wisata yang dikelola PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX ini tergolong cukup ekstrem. Traveler menempuh jalur yang mulus dari kota hingga kawasan Argo Wisata Jollong.
Baca juga: Tempat Wisata Rembang Tutup Saat Lebaran, Para Pengelola Kelabakan
Namun, setelah itu, medan jalan cukup ekstrim. Medan jalan merupakan jalur tanah dan berbatu yang hanya bisa dilalui sepeda motor dan mobil jeep.
Kesulitan pengunjung melalui jalan tersebut akan terbayar dengan pemandangan indah di puncak bukit. Memandang ke atas, pengunjung bisa melihat puncak-puncak pegunungan yang diselimuti kabut.
Memandang ke bawah, ke arah tebing di tenggara, pemandangan dua waduk tersaji, yakni Waduk Seloromo dan Waduk Gunungrowo. Bagian puncak Bukit Buba’an juga ditata rapi seperti taman, dengan jajaran tanaman hias yang ditata rapi.
Pemandangan-pemandangan ini akan lebih istimewa bila dinikmati kala fajar atau senja. Bila tidak ada kabut, sunrise maupun sunset akan terlihat cantik dan indah.
“Buba’an Hills konsepnya bumi perkemahan, selain itu wisata alam untuk melihat sunrise dan sunset. Jadi dari sini bisa melihat indahnya matahari terbit dan terbenam,” ujar Supervisor Wisata Agro Jollong, Haris Darmono, beberapa waktu lalu.
Baca juga: Dinbudpar Rembang Akan Tutup Destinasi Wisata Menjelang Libur Lebaran
Saat ini, di Buba’an Hills sudah dibangun fasilitas kamar mandi, gazebo besar untuk tempat beribadah dan bersantai, serta lampu tenaga surya.
“Ini sudah dibuka untuk umum, bagian dari wahana kami. Jadi cukup bayar tiket masuk Rp10 ribu bisa ke sana. Naik sepeda motor bisa, kalau rombongan kami siapkan mobil jeep,” tuturnya.
Ia menambahkan, bagi pengunjung yang ingin berkemah/menginap sehari semalam di Buba’an Hills tentu akan dikenai tarif berbeda.
Ke depan, terang Haris, pihaknya akan memperbaiki akses jalan. Sebab, sebagian jalan masih berupa tanah yang becek ketika hujan.
“Kalau cuaca cerah aman. Tapi kami khawatir kalau hujan. Jadi akan kami beri gorong-gorong. Selain itu jalannya akan kami tata dengan batu-batu,” tutur dia.
Eko Kuswanto (24), warga Desa Sitiluhur, memanfaatkan momen menunggu berbuka puasa alias ngabuburit di Buba’an Hills.
“Saya ngabuburit di wahana baru ini. Biasanya sore-sore ada anak-anak, kawula muda desa setempat pada ke sini, habis sahur juga. Dari desa sebelah juga ke sini biasanya. Pemandangannya bagus, bisa lihat dua waduk sekaligus dari atas sini. Sayang memang akses jalan ke sini cukup sulit,” ungkap dia.
Hanafi (29) pengunjung asal Desa Sundoluhur, Kecamatan Kayen, juga menilai Buba’an Hills sangat indah. “Saya baru pertama kali ke sini. Kebetulan diajak teman yang orang sini. Pemandangannya sangat bagus dan udaranya sejuk. Jangan lupa kalau ke sini pakai jaket,” pungkasnya. (*)
Baca juga:
- Angka Covid-19 Turun, Pemkab Rembang Tetap Larang Mudik dan Darmawisata
- Genjot Perekonomian, Pengelola Wisata Didorong Urus Izin Operasional
- Disparekraf Berikan Klarifikasi Terkait 2 Mafia Gunakan Pas Bandara Atas Nama Dinas Pariwisata
Jangan lupa kunjungi media sosial kami, di facebook, twitter dan instagram
Redaktur: Atik Zuliati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar